tebakanku benar. esok hari kuharap masih ada harapan. sungguh, di titik ini aku bahagia. tak ada yang lebih berarti dibanding dirimu.
Friday, November 26, 2010
Harapan; Adakah Kita Sehati?
Thursday, November 25, 2010
Hati Bertutur
Entah apa yang kau rasakan, aku hanya bisa menebak. Bisa jadi tebakanku benar, bisa jadi tebakanku salah. Masalah hati katamu, berarti tentang perasaan.
Selama ini kita berpencar ke jalan masing-masing. Kuakui aku terjebak ke lubang dua kali tanpa kau pegang erat tanganku. Kukira aku bisa menemukan sosok lain yang dapat membuatku bahagia. Bahagia yang bagaimana? Tanpamu aku menjadi tak jelas, bukan abstrak, tapi lebih buruk dari ketidakjelasan eksisnya makhluk. Kuakui kau sangat berarti bagiku.
You already knows this feeling even I did’nt say it to you. Percayalah pada hal-hal yang membuatmu optimis, seperti aku yang selalu percaya pada kekuatan doa. Amin, semoga Allah memberikan semua kebaikan bagimu.
*ditulis saat tenggorokan tercekat, merenung dengan ketundukan dan kepasrahan pada Yang Kuasa
Tuesday, December 1, 2009
Ijtihad: Menuju Kemaslahatan Manusia
Editor: Zuhairi Misrawi.
Penerbit: KIKJ dengan Ford Foundation, Jakarta.
Cetakan: pertama, Agustus 2003.
Jumlah halaman: xii+166
Buku mini ini adalah hasil pemikiran keroyokan dari 4 penulis yang concern terhadap Islam yang sedang berhadapan dengan dinamika kehidupan yang terus menerus menuntut setiap orang bertahan dalam kerasnya kehidupan. Sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin sudah seharusnya Islam yang sholih likulli zaman wa makan mampu menjawab dan mengurai kusutnya tantangan anak zaman. Tema yang disorot buku ini adalah fenomena fundamentalisme, seksualitas, dan kesehatan reproduksi. Bukan menafikan hal-hal yang lain, tetapi 3 hal ini telah berkembang secara sporadis dengan berat sebelah. Dalam kacamata buku ini, pemahaman muslimin tentang 3 isu tadi keluar dari jalur kemaslahatan dan kemanusiaan.
Fundamentalisme adalah wajah putus asa muslimin dalam menghadapi modernisasi dan globalisasi akut yang terus menggerus nilai, norma, dan aturan yang selama ini membentuk dinding yang kuat dalam jati diri manusia. Tak pelak, pertarungan antara Islam vis a vis barat tak terelakkan lagi. Barat yang kebudayaan dan peradabannya "mencontek" dari Islam, jauh meninggalkan Islam yang stagnan. Sementara gempuran kapitalisme dan matrealisme yang ikut datang bersamaan dengan barat bagai gelombang raksasa yang melarutkan siapa saja.
Maka agama sebagai korpus tertutup, berada dalam pucuk menara gading yang tak tersentuh (untouchable), mempunyai fungsi defensif sekaligus ofensif terhadap hal baru yang datang dari luar. Fundamentalisme inilah yang lahir dari rahim ketidakmampuan agama dalam menyikapi tuntutan zaman. Lalu semua solusi harus dicarikan hujjah dari teks agama, pemikiran kaum ini menjadi kian sempit dan dangkal. Fundamentalisme menginginkan pertahanan yang kuat dari muslimin sendiri, sekaligus sebagai alat penantang dan senjata yang diharapkan mampu mengobrak-abrik semua hal baru yang sesat.
Penulis menyimpulkan 3 akibat buruk dari pemikiran sempit yang muncul dari tempurung fundamentalisme:
1. Munculnya klaim kebenaran
2. Munculnya monopoli tafsir
3. Munculnya kekerasan dengan mengatasnamakan agama
Stagnansi Islam juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Islam rentan terhadap gempuran dari luar. Ulama dan cerdik cendekia masih saja berpikiran kuno dengan merujuk semua hal baru ke literatur-literatur klasik. Dr. Abid al-Jabiri menyebutnya kecenderungan melihat masa kini dengan kacamata masa lalu (al-fahmu al-turats lil 'ashr). Metode klasik inilah yang membuat muslimin terkungkung dalam legenda masa lalu yang konon dalam masa kejayaannya pernah merajai dunia. Masa kejayaan yang bagaimana dan kapankah itu? Entah kita tak pernah mengetahuinya secara pasti.
Lalu dalam masalah fiqh, al-Syatibi dalam fiqh maqashidnya menghendaki agar ushul fiqh diwacanakan kembali. Ushul fiqh bersifat qath'i dan fiqh bersifat hipotesa (dzanni). Nah, ushul fiqh diharapkan bertujuan demi kemaslahatan manusia dan nilai-nilai kemajuan manusia. Bukankan agama kita adalah rahmat bagi seluruh alam? Manusia sebagi subjek, menentukan garis hidupnya sendiri, bukan dengan fatwa-fatwa yang menyudutkan kearifan Islam dan menepikan kemaslahatan manusia.
Dr. Ali Jum'ah, Jamaluddin 'Athiyah (Mesir), Yusuf al-Qaradlowi (Qatar), Dr. Abid al-Jabiri (Maroko) sepakat bahwa syariat Islam sejatinya dipahami sebagai sekumpulan nilai yang memberikan perhatian bagi masalah-masalah kemanusiaan, demi kemaslahatan.
Sementara itu Imam al-Suyuthi membagi kemaslahatan menjadi 3:
1. Kemaslahatan primer (dloruri)
Yakni kemaslahatan yang menjadi acuan utama bagi implementasi syariat; penyeimbang dan mediasi antara kecenderungan duniawi dan ukhrowi. Kemaslahatan primer ini terimplementasikan dalam ushul khomsah: hifdzu al-din, hifdzu al-nafs, hifdzu al-'aql, hifdzu al-nasl, dan hifdzu al-mal.
2. Kemaslahatan sekunder (al-hajiyat)
Ini adalah kemaslahatan yang menduduki hirarki kedua setelah kemaslahatan primer, contoh mudahnya adalah rukhsah dan al-mukhaffafah dalam beribadah.
3. Kemaslahatan suplementer (al-tahsiniyat)
Contoh riil dari kemaslahatan suplementer adalah ajaran untuk berhias, beretika, bantuan kemanusiaan, dll.
Dalam pembaruan fiqh, penulis mendapati setidaknya ada 3 level yang harus dilewati secara bertahap:
1. Level metodologis.
Yang perlu dilakukan dalam proses progresifitas fiqh: al-muhafadzotu 'alal qodim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah. Kemaslahatan bagi manusia mutlak hukumnya. Jika kemaslahatan itu ada pada hal yang telah mapan, maka hal itu tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya. Sedangkan hal baru yang diterima adalah hal baru yang mendatangkan kemaslahatan lebih bagi manusia. Yang ada hanyalah kebaikan sebagaimana yang telah berjalan, atau lebih baik.
2. Level etis
Dari level etis ini, yang diharapkan adalah meletakkan fiqh sebagai etika sosial. Selama ini kondisi sosial yang kasat mata adalah derajat sosial manusia ditimbang dari kepemilikan material, jabatan, popularitas, dan hal lain yang tidak bersifat esensial. Kondisi inilah yang perlu dilawan, dan Islam harusnya lebih percaya diri menghadapi kondisi ini dan memberi solusi yang bermanfaat bagi semesta alam.
3. Level filosofis
Pada tahap lanjutan ini, fiqh perlu terbuka terhadap filsafat dan aliran-aliran kontemporer. Diharapkan fiqh dapat terbuka dan berdialektika dengan segala macam pemikiran, entah itu dari agama lain atau atheis, maupun dari rasionalistik dan penganut kepercayaan lain.
Begitupun interpretasi kita terhadap teks agama yang menjadi pedoman semua muslim. Tafsir dan ilmunya mendapat tantangan serius dari barat yang berwujud hermeneutika. Tafsir: proses dialektika antara mufassir, al-Quran, dan realitas mufassir yang terus berubah, yaitu konteks, latar belakang, dan tujuan mufassir.
Penulis merangkum ada 2 wacana utama hermeneutika:
1. Wacana hermeneutika teoritis.
Wacana hermeneutika yang mengandaikan adanya adanya makna objektif/makna yang dimaksudkan pengarang teks. Tujuannya: bagaimana mencari metode agar mufassir terhindar dari salah paham dan mampu menangkap makna teks yang objektif dan valid. Caranya: menggunakan sumber ekstra teks (extrinsic evidence), atau membandingkan dengan teks-teks lain yang serupa dari pengarang yang sama, atau dari pengarang lain. Contohnya: 'Aisyah Abdurrahman bintu Syati', Fazlurrahman.
2. Wacana hermeneutika filosofis.
Wacana hermeneutika yang mengandaikan adanya makna objektif teks, karena itu penafsiran. Proses reproduksi nakna baru. Netralitas mufassir adalah mustahil, yang mungkin dilakukan adalah peleburan cakrawala makna teks dan prapaham penafsir (the fusion of horizons atau the fusion of proper text), berupa persepsi, keadaaan, dan latar belakang mufassir.
Maka dari semua sisi itu, aksi untuk menangkap dimensi kemaslahatan dalam Islam harus segera dilaksanakan. Minimal 3 cara berikut ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu:
1. Keterbukaan dalam membaca dan memahami teks
2. Menempatkan manusia sebagai subjek atas teks
3. Memberikan perhatian terhadap persoalan kemanusiaan
Bagi sebuah buku mini, pembahasan yang berat ini seperti 'cerpen.' Bagaimanapun, usaha 4 penulis yang saling bekerja-sama dalam merumuskan kemaslahatan bagi manusia yang didasari dengan teks al-Quran, pegangan hidup muslimin di seluruh alam. Buku mini ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya, patut diapresiasi semua kalangan. Usaha para penulis adalah memberi rangsangan bagi para pembaca untuk mengembangkan upaya kemaslahatan bagi manusia. Ijtihad adalah benar, dan ber-ittiba' pun dibenarkan. Yang perlu dibenahi adalah sikap saling menyalahkan, dan berpikiran kolot dengan pakem adat, bukan dengan dasar agama. Sampai saat ini, dalam beragama, apakah Anda bisa membedakan ajaran agama dan adat-istiadat?
Friday, November 27, 2009
Ijroat Lagi, Lagi-lagi Ijroat
Ah terserahlah tulisan ini termasuk apologis, pledoi, unek-unek, curhat, ato termasuk sampah monitor aja. Btw, EYD aku gunakan sekuat tenaga di tulisan-tulisan ilmiah, ex: makalah, resensi buku, artikel lepas, sedangkan yang berbau curhat n unek-unek, ya semauku ajah dunk :P.
Ceritanya begini saudara dan saudari, tgl 27 November (eh, yang bener pake "p" apa "v"? Aku suka pake "v" sih) kan lebaran idul adha, nah 2 hari sebelumnya udah jadi hari libur kerja. Makanya, ijroat terakhir adalah tgl 24 November. Sebenarnya tgl 23 pun aku sudah bisa selesai ijroat menyerahkan semua berkas ke bu'uts untuk taqdim tadzkaroh 'audah (bahasa gaulnya tiket pulang). Tgl 23 aku disuruh ust. Sayyid yang ngurusi minhah mahasiswa ushuluddin ke bu'uts untuk menemui tukang urus tiket pulang, ust. Saif namanya. Nah, setelah berhari-hari ijroat ke kampus, ke murokib lagi, tyus balik ke kampus lagi, tyus ke murokib lagi dengan semangat, akhirnya pas hari H ijraotku ke bu'uts, malah batal.
Alasan makro dari tidak jadinya aku ijroat bukan karena flu yang terus menerus ngejak padu, tapi pegawai-pegawai yang menangan dewe. Mau nagih terus, nanti doi marah dan ngambek ndak mau ngerjain urusan kita. Kalau kita yang bersabar, malah kita disuruh kembali lagi besok, Capek deh... Apa-apaan ini?
Contoh riil dan aku jadi mangkel adalah di konsuler aku memang datang siang, jam 1 tepat setelah dari murokib dan dari kampus. Datang tyus nanya ini-itu sama resepsionisnya, lalu disuruh lapor pendidikan dulu, tyus baru boleh minta syahadah 'unwan (surat keterangan alamat di Indonesia).
Setelah aku isi semua formulir lalu aku tumpuk. Di sela-sela siang itu, nampaklah bapak kita, Prof. Sangidu alias ingkang sinuhun Atdiknas. Beralaskan sandal rumahan, beliau clingak-clinguk ke ruangan kekonsuleran. Lalu berkata sambil tersenyum "Mas Heri, makan dulu, Mas!" Heri yang sedang memegang setumpuk paspor dan berkas-berkas lain yang akan digarap langsung menggeletakkan begitu saja tanpa dosam dan menyahut "Iya pak!"
Dalam pikirku, Pak Sangidu ni buat lama ajah, kan baru ajah mau digarap itu semua kerjaan. Walhasil karena boring n blum sholat, aku tinggal ke Misykati untuk sholat dan PS-an bentar. Setelah 1 jam, aku menuju konsuler yang letaknya tak begitu jauh. Ternyata di sana udah banyak yang antri! Dan ternyata, semua urusan tadi belum digarap. Tertunda oleh makan siang dan istirahat yang kata mas resepsionisnya setengah jam ajah! Aaaarrrrggghhh!
Masih di sana menunggu sambil minum air galonan, sambil wira-wiri dan ganti kursi di kanan-kiri (maklum boring rek). Lalu mas resepsionis mengambil bendera di balkon luar, dan menutup balkon. Aku pikir, pasti hampir jam3, soalnya sudah mau ditutup dan adzan ashar udah terdengar. Yup, hampir jam 3 semua surat dan urusan selesai dibagi-bagikan. Dan ternyata, sembari aku berjalan ke rumah madrasah, kulihat syahadah 'unwanku salah! Arrrgggghhh! Mau balik lagi ke konsuler udah tutup, apa-apaan ini?
Esoknya, ke konsuler jam 10 pagi. Di sana aku tunjukkan suratku yang salah ke mas Heri. Aku merevisi dengan mencoret kertas lain. Kali ini menunggu yang membosankan itu tidak selama yang kemarin. Setelah selesai diriku dipanggil. Aku menerima kertas yang sama, aku cek lagi kesalahan tulis kemarin. What?! Di-tip ex! Kertas yang berlogo burung khayalan Garuda itu di-tip ex dengan tulisan yang benar di atasnya! OMG! Apa-apaan ini?! Kalo cuma tipe ex sih
mending aku kerjain sendiri. Okeylah ndak papa di-tip ex asalkan udah bener.
Next, aku pergi ke murokib minta qoimah kutub. Setelah ngos-ngosan naik tangga dan cari kantor tanya sana-sini, aku balik lagi ke bawah buat fotokopi dan beli materai. Udah gitu balik ke atas lagi, numpuk semua yg dibutuhkan.
Kata pegawainya: bukroh hatigihi hina, insya Allah.
Aku: hwe? Mumkin ta'mil di dilwa'ti? ana 'aizin nahardah.
Pegawainya: oke oke, istanna hinak yabni.
Nunggu berarti bosen. Mending ke bawah sholat dzuhur, lalu balik lagi ke atas. Ternyata ke atas berkasku belum diapa-apain. Aku nunggu sama orang Thailand, Benin, Mesir dan anaknya bawwab yang nakal. Mendinglah ada anak kecil bisa buat tontonan, soalnya dia praktek kerja senyata ibunya yang tiap hari bersih-bersh ruangan kantor. Meja dilap, kursi dilap, lapnya dibasahin juga, dan yang dia nampak bego adalah colokan listrik dilap! Kesetrum sisan kapok kowe le! Yang buat mangkel, kursi dan meja dijungkir-walik seakan-akan dirinya adalah atlet angkat besi!
Rampung dari murokib entah jam berapa, dan nunggu bus ke bu'uts juga lama. Maklum saja, siang-siang itu waktu orang pulang kerja, macetnya ra karuan. Dapet bus, duduk manis dan bayar tentunya. Sesampainya di bu'uts jam 3 lebih dikit. Mau ijroat udah telat. Damn.
Esoknya ijroat jam 11 pagi, kata temennya sih ust. Saif lagi keluar, mungkin 1 jam lagi balik. Okey, jam 12 aku ke sana lagi. Ust. Saif masih keluar, jam 2 dia balik. Buat ngakidke, aku tanya, dia bener masuk kerja kan? Iya. Jam 2 siang aku ke sana lagi, aku tanya, ternyata ust. Saif masih blum pulang. Aku tanya, dia beneran ada hari ini? Iya dia ada. WTF, apa-apaan ini? Bilang ajah dia ndak berangkat, wong kursinya ajah masih dibalik gitu!
Yawdah deh, setelah libur idul adha aku akan kembali ijroat lagi. Kalo aku masih flu, berarti sambil menularkan virus flu aktif ke syu'un syu'un Mesir itu!
Buat yang masih lama di Mesir, jangan patah arang kalo lagi ada urusan sama orang Mesir! Wong yang udah 4 tahun ajah kena bukroh, sa'ah kaman, atau ba'da sa'ataiyn, apalagi yang mahasiswa baru, bukrohnya masih ada sampe nanti pulang!
Monday, November 16, 2009
Aku Benci!
Sepi menghunjam
kala rembulan tak lagi terang
dalam gelap yang meringkuk
dengan rakus melahap waktu
tak pernah dihitung oleh bilangan
Jangkrik tak kunjung mengerik
melodi fauna yang penuh arti
-aku merindukannya-
Malam, Beri Aku Waktu!
Rembulan menyapa lewat malam
kegelapan mengangguk dan berlalu tanpa kata
Kelelawar hitam sibuk mencari asmara
yang tak akan ia dapati siang hari
mereka terbang dalam dingin
mencari lelah yang menghasilkan
dan akan pulang kala subuh tiba
Merindukan Purnama
Sang pejantan menyusuri jalanan lengang
hanya ditemani bayang hitam
sendirian, dan terus mengikuti angin berhembus
Berpakaian serba putih, tak beralas kaki
berharap cepatlah sampai
bertemu purnama di keheningannya
